Dandelion Bawa Air mataku
- Bulir bulir airmata mengalir curam
Tapaknya tak tandas diusap punggung tangan
Sementara wajah tak kuasa membendung,
Harus kemanakan biar Ia bermuara?
- Menyibak barisan ilalang,
Sembari sesenggukan
Langkah seribu berhaluan tak tentu arah
Sampainya mungkin di ujung dunia
- Di bawah gumpalan kapas abu
Setitik cahaya putih berlenggak-lenggok
Nyatanya, itu sebatang lunak dandelion
Dandelion itu, terhuyung-huyung diterpa udara
Sama, seperti aku yang menahan terpaan kecamuk batin
Malangnya kami…
- Aku menjumput benih benih-nya yang putih lembut
Kutiup, membiarkannya terbang terbawa angin,
Bersama letupan-letupan emosi
Emosi yang berpendar dan menyayat kulit hati
Emosi, ketika aku berhadapan dengan kamu
- Kubiarkan “Parachute Ball” itu terbang menghalau rintangan,
Toh pada akhirnya ia akan terjatuh di suatu tempat
Tempat yang memungkinkannya kembali bertumbuh
Tumbuh jadi dandelion yang menguning
- Mungkin di tempat jatuhnya pula,
Air mataku jatuh terbendung,
Kemudian bulirnya bertumbuh kembali
Jadi perasaan baru, suka, senang
Yang bukan tentang kamu